Mencetak anak menjadi da'i dan hafidz Quran

Jumat, 23 September 2011 23.54 By Alfi Nisa

Menyiapkan Ahmad untuk kelak menjadi seorang penyeru Islam (da’i) dan penjaga Al Quran dengan (salah satunya) menghafalnya, adalah cita-cita kami yang sedang kami rintis sejak awal Ahmad kami asuh. Melazimkannya dengan Al Quran dan kehidupan dakwah adalah salah satunya yang sudah bisa kami lakukan sejak pertama kali kami membawa Ahmad. Lantunan ayat suci Al Qur’an sering menjadi suara pengantar perjalanan, tidur maupun bermainnya. Demikian pula terlibat dalam agenda-agenda dakwah yang kami jalani juga sudah dirasakan oleh Ahmad sejak awal dia bersama kami. Mengikuti kami dari satu forum kajian ke forum kajian yang lain, dari satu seminar ke seminar yang lain, dari satu masjid ke masjid yang lain, siaran radio, browsing bahan makalah ke warnet, menyaksikan kami menjadi murid atau guru dalam suatu majelis ilmu adalah hal yang biasa dialami Ahmad. Bahkan ketika dakwah mengharuskan dilakukannya muhasabah (koreksi) terhadap kebijakan penguasa yang salah, dengan cara aksi damai (mashirah) pun Ahmad sering ikut. Tak jarang dia ikut jalan bersama saya, atau kadang ikut abinya di mobil orasi. Harapan kami melibatkan dia sejak awal tentu adalah agar Ahmad terbiasa sejak awal dengan kehidupan dakwah yang kelak akan dia jalani juga sebagai seorang da’i (pejuang dan penyeru Islam).

Sayyid Hussein Tabataba’i; Sang Inspirator

Terkait dengan upaya kami untuk mempersiapkannya menjadi hafidz, ada sebuah kisah ’anak ajaib’ yang menginspirasi kami. Nama anak ajaib tersebut adalah Sayyid Hussein Tabataba’i. Seorang anak Iran yang berhasil meraih gelar Doktor Honoris Causa pada usia 7 tahun dari Hijaz College Islamic University Inggris karena menghafal Al Qur’an dan memahaminya. Sekarang anak tersebut sudah berusia 17 tahun. Namun metode yang dipakai oleh orang tua Sayyid Hussein ketika mengajarkan anak mereka menghafal dan memahami Al Qur’an masih dipraktekkan di beberapa sekolah hafalan Qur’an yang mereka dirikan (Jamiatul Qur’an) untuk mencetak sayyid Hussein, sayyid hussein yang lain.

Diantara alasan mengapa kisah tersebut sangat menginspirasi saya adalah: yang pertama, Sayyid Hussein tidak sekedar menghafalnya namun juga memahami setiap apa yang dihafalnya. Bahkan dia bisa menjawab beragam pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat kepadanya dengan jawaban yang sangat memukau dari Al Qur’an yang dihafal dan dipahaminya tersebut. Yang kedua, bahasa Al Qur’an (bahasa Arab) bukanlah bahasa ibunya karena dia berbahasa Iran, itulah mengapa sang ayah pada waktu awal mengajar hafalan Sayyid Hussein menggunakan metode bahasa isyarat yang beliau temukan sendiri. Sementara yang ketiga, Sayyid Hussein adalah sebuah contoh pribadi anak di abad ini, sehingga kondisi yang melingkupinya tentu tidak terlalu jauh berbeda dengan yang kita hadapi saat ini.

Karena kami mencita-citakan Ahmad nantinya tidak sekedar hafal, namun juga memahami berikutnya mengamalkan apa yang dipahaminya dari Al Qur’an, sementara bahasa Arab juga bukanlah bahasa ibu bagi kami dan Ahmad, maka metode isyarat yang diperkenalkan ayah Hussein taba Taba’i tersebut sangatlah menginspirasi saya. Saya sendiri memiliki seorang keponakan perempuan yang saat ini sudah memasuki hafalan juz ke-3, ketika usianya baru sembilan tahun. Apa yang dilakukan ibunya kepada keponakan saya ini juga sedikit banyak menginspirasi saya dengan cara yang lain. Hanya, dibandingkan dengan Ahmad, kelihatannya, mengajar keponakan saya ini jauh lebih terasa mudah karena tipenya adalah ’anak manis’. Sehingga sekalipun inspirasi bisa dari mana saja, tetapi pada akhirnya kita sendirilah yang paling tahu metode apa yang terbaik untuk mengajar anak kita.

Umi Sang Arsitek, Abi Asisten Dan Guru Yang Luar Biasa

Dalam melakukan semua proses pendidikan dan pembelajaran apapun kepada Ahmad, asisten terpenting saya adalah abi Ahmad. Karena tidak kita pungkiri, guru terpenting bagi anak di sekolah pertamanya (rumah) adalah ibu dan ayahnya. Bukan ibu saja. Dan bukan pula ayah saja. Keduanya adalah tim yang harus kompak. Masing-masing juga harus tahu peran apa yang bisa dan harus dimainkan.

Terkait dengan mengajarkan Ahmad menghafal Al Qur’an, saya sangat terbantu dengan Abi Ahmad. Bukan sekedar karena suara dan bacaaannya yang memang bagus, atau karena memiliki hafalan Qur’an yang cukup untuk saat ini mengajari Ahmad, tapi lebih kepada kemauan dan komitmennya yang bagus pula untuk menjadikan Ahmad seorang hafidz. Beliau, sesuai dengan skenario atau jadwal hafalan yang saya buat cukup disiplin mengajak Ahmad menghafal ayat-ayat Al Quran. Saya tinggal mengkomunikasikan surat apa yang sekarang sedang saya programkan untuk Ahmad, lagu/irama bacaan seperti apa yang digunakan agar sama dengan yang saya gunakan (biasanya qiroati), dan momen-momen tepat kapan saja yang bisa dipakai untuk melakukan hafalan. Alhamdulillah, abi melakukannya dengan sangat luar biasa. Bahkan saat ini, beliau sudah merancang satu sistem menghafal indeks nama dan surat dalam Al Quran menggunakan metode cantolan untuk kelak diajarkan kepada Ahmad ketika sudah agak besar.

selengkapnya baca di..

http://keepfight.wordpress.com/2011/07/04/mendidik-anak-menjadi-hafidz-dan-da%E2%80%99i-oleh-faizatul-rosyidah-ummu-ahmad/


0 komentar:

Poskan Komentar